Boy Shandy's Blog
non scholae sed vitae discimus
non scholae sed vitae discimus
Mar 4th
MER-C Training Center Medan bekerja sama dengan tim SAR Nasional mempersembahkan:
Bertempat di Hutan Alami Tangkahan selama enam hari.
Hal yang bisa didapat:
- Keahlian bertahan hidup.
- Mampu membaca peta buta dan peta kontur, dan mantap menentukan lokasi.
- Mempraktikkan teknik membuat api di hutan.
- Mampu mencari dan memilih makanan yang ada di hutan.
- Mampu membuat bermacam perangkap makanan.
- Teknik membuat shelter.
- Mengobati luka, dan mengenal tanaman-tanaman obat.
- dan keahlian-keahlian penting lainnya.
Fasilitas:
- Tim Instruktur SAR berlisensi Nasional
- Tim Medis MER-C Cab. Medan
- Asuransi Jiwa
- Sertifikat dari BASARNAS.
- Menjadi anggota komunitas jungle survival Medan.
Hanya untuk 20 orang. Pelatihan ini dimulai pada Oktober 2012.
(Pelatihan akan dibuat setelah kuota peserta penuh)Investasi sebesar Rp 5.500.000,- per orang.
ayo! ajak teman-teman dan komunitas kamu gabung!
bila ada pertanyaan dan ingin gabung, silakan hubungi kami:
- Boy 08566352828
- Hairun 085761807958
Feb 28th
Allah swt yang Agung, telah menciptakan alam raya ini dengan begitu sempurna dan dengan perhitungan yang sangat rinci. Dia menciptakan segalanya dengan tidak main-main. Alam raya ini bekerja dengan aturan. Dan manusia diciptakan salah satu tugasnya adalah untuk menjaga alam ini agar tetap berjalan dalam keseimbangannya.
Alam semesta bak fasilitas yang Tuhan beri untuk kita olah dan jaga. Ibarat kendaraan yang selalu dirawat dengan baik, tentunya akan membuat nyaman pengendaranya, dan akan membawa para penumpang ke tempat tujuan dengan selamat. Tubuh kita termasuk fasilitas dari Tuhan yang harus kita jaga, agar si pemakai (kita sendiri) dapat merasa nyaman, aman, serta dapat menjalankan aktivitasnya dengan lancar. Bagaimana caranya agar fasilitas berupa jasad fisik kita menjadi kuat, awet, dan sehat selalu?
Berikut tujuh hal sehat yang sering kita sepelekan dan kita lupakan:
#7 Menyikat Gigi Sebelum Tidur
Bayangkan gigi indah yang kita miliki, mengalami bolong-bolong dan rusak. Ah, sudah tak sedap dipandang, gigi rasanya sakit, makan apapun tak enak. Apalagi bila pergi berobat, mendengar desingan mesin sang dokter, sudah membuat ciut nyali. Belum lagi biaya yang harus keluar untuk pengobatan dan perawatan? Apakah semua itu sepadan? Padahal, kita hanya diminta untuk menjaga kesehatan gigi dengan cara yang sederhana saja. Cukup dengan disiplin menyikat gigi sebelum tidur, agar sisa-sisa makanan dapat dibersihkan dan tidak menjadi tumpukan plak di sela-sela gigi.
Penting untuk diingat, efektifitas menyikat gigi bukan terletak pada banyaknya pasta gigi yang digunakan, tetapi lebih kepada cara menyikatnya. Menyikat gigi tidak sama caranya seperti menyikat sepatu. Cara menyikat gigi yang salah, malah bisa membuat email gigi menjadi tipis sehingga menyebabkan gigi sensitif dan gusi bisa berdarah.
Dengan kita setia menjaga kesehatan gigi, maka gigi-gigi kita pun setia menemani kita sampai tua nanti.
#6 Tidur Yang Cukup
Pernah mendengar sebuah lagu merdu berjudul “begadang”? yap, sebuah lagu lawas yang dipopulerkan oleh Haji Rhoma Irama. Lalu apa hubungannya lagu begadang dengan kesehatan?
Istirahat yang cukup pada malam hari, ternyata bisa membuat tubuh lebih sehat. Mengapa? Pada malam hari (antara pukul 01.00-03.00) organ hati/lever sedang bekerja dengan kekuatan yang paling optimal. Organ hati berfungsi untuk membuang racun-racun yang menumpuk di dalam tubuh. Artinya, selama kita tidur pada malam hari, organ hati sedang bekerja melakukan proses detoksifikasi. Proses detox alami tersebut dapat terganggu bila kita dalam keadaan terjaga alias begadang.
Selanjutnya hormon melatonin. Hormon melatonin adalah zat yang dihasilkan oleh kelenjar pineal di dalam otak dan pembentukannya akan dipicu oleh gelap. Kadarnya paling tinggi ditemukan menjelang pagi hari sekitar jam 02.00 – 04.00. Salah satu manfaat hormon ini adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh kuat melawan penyakit.
Oleh karena itu, coba sesekali lihat teman kita yang sering begadang, pasti dia sering sakit-sakitan bukan? So, jangan begadang kalau tiada artinya.
#5 Makan Makanan Yang Sehat
Bayangkan sebuah sepeda motor yang dinyalakan, kemudian langsung digeber dan melaju kencang, tanpa ada pemanasan mesin terlebih dahulu. Tentunya mesin sepeda motor tersebut akan cepat rusak bukan?
Begitu juga alat pencernaan kita, perlu juga pemanasan untuk mengolah makanan. Awali sarapan pagi dengan makanan yang mudah dicerna seperti sayuran dan buah. Jangan langsung mengisi perut dengan makanan yang sulit dicerna misalnya nasi dan daging merah yang digoreng. Hal ini tentunya membutuhkan tenaga yang besar untuk mengurai makanan tadi. Dengan sarapan sayur dan buah, kita memberikan kesempatan bagi organ pencernaan untuk mengolah makanan yang mudah diurai terlebih dahulu, agar siap mengolah makanan yang “berat” di siang harinya.
Kualitas makanan, menentukan kualitas kesehatan kita. Semakin baik kualitas makanan, maka semakin baik pula tingkat kesehatan kita. Jauhilah (atau paling tidak kurangilah) makanan yang digoreng dan dibakar.
#4 Cara Makan Yang Tepat
Kalau tadi kita bicara makanan, sekarang kita bicara mengenai cara makannya. Mengapa? Karena cara makan yang salah, bisa membuat tidak optimalnya proses pencernaan.
Kunyahlah makanan dengan baik. Semakin baik makanan dikunyah, maka semakin mudahlah tugas lambung untuk mengolah makanan dan semakin banyak pula makanan yang bisa diserap oleh tubuh. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik, akan tidak terserap dengan optimal.
Kemudian, makanlah dengan perlahan. Tak usah terburu waktu. Perut memerlukan waktu lebih lama untuk memberikan sinyal kenyang kepada otak. Semakin cepat-cepat kita makan (biasanya makan secara emosional), tanpa sadar semakin banyak pula makanan yang masuk ke dalam perut karena otak belum menerima sinyal rasa kenyang. Akibatnya kita memakan makanan lebih banyak dari yang kita perlukan. Oleh karena itu, orang yang makan dengan terburu-buru, biasanya cenderung lebih gemuk.
#3 Puasa
Dari tadi bicara tentang makan-makan terus, kapan puasanya? Hehehe.. Ya, memang benar, kita sering melupakan hal sehat yang satu ini. Saat berpuasa tubuh kita mengistirahatkan organ-organ pentingnya dan meningkatkan sistem imun tubuh. Tidak hanya itu saja, berpuasa juga memberikan kesempatan tubuh untuk menyembuhkan diri saat kita sedang sakit. Fasting doesn’t cure any disease but provide an opportunity to the body to heal itself.
Karena banyak sekali manfaat dari berpuasa, para ahli nutrisi di Barat meyakini bahwa ada mata rantai yang hilang pada pola makan manusia modern saat ini, yaitu puasa.
#2 Bergeraklah
Ayo pemuda, bergeraklah! Gerakkan tulang-tulang perkasamu!
Tubuh kita memiliki lebih dari 200 sendi. Artinya, kita memang didisain untuk aktif bergerak! Kita bukanlah mahluk seperti pohon kayu yang kaku. Bergeraklah, berolahragalah. Menjadi sehat, tidak selalu harus olahraga berat seperti angkat beban, tidak juga dengan lari marathon setiap hari. Sederhananya, jangan biarkan tubuh kita berdiam diri dalam satu posisi yang sama dalam waktu yang lama. Apabila kita sedang bekerja di depan komputer, setiap satu atau dua jam, berdirilah dari kursi dan gerak-gerakkan tubuh kita. Hal ini membuat aliran darah ke otak kembali lancar dan membuat bekerja lebih fokus. Apabila kantor tempat bekerja ada dilantai dua, tak perlulah naik lift. Sempatkan untuk berjalan kaki sambil menaiki tangga. Tidak capek dan mudah bukan?
#1 Bersyukur
Hal sehat terakhir yang sering kita lupakan adalah Bersyukur. Karena manusia hakikatnya adalah mahluk yang holistik. Manusia bukan mahluk yang hanya berupa tulang-tulang yang dibalut dengan daging. Selain fisik, manusia juga memiliki sisi emosional, perasaan, dan spiritual.
Hari ini banyak orang yang tidak mensyukuri apa yang sudah dimilikinya. Sudah punya uang yang lebih, selalu merasa kurang. Sudah punya wajah yang cantik, selalu saja merasa jelek. Kemudian mencoba operasi plastik – dengan biaya yang tidak murah – eh, pada akhirnya malah jadi jelek betulan. Waduh?!
Kita ambil contoh: bagi perempuan, cantik berarti harus berkulit putih, bermata biru, dan rambut pirang lurus. Siapa yang membuat “standard” cantik seperti itu? Sehingga kita sibuk agar tampil dengan standard tadi. Bagi laki-laki, tampan berarti harus memiliki tubuh yang kekar dan tinggi. Siapa yang membuat standard tampan tadi? Itu semua ilusi. Cantik atau tampan tidak harus selalu berkulit putih, halus dan tanpa bulu (seperti yang dibilang iklan-iklan di TV). Dengan mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri, kemudian kita merawatnya dengan baik, itulah kecantikan atau ketampanan sejati. Setuju?
Dengan bersyukur, jadilah kita pribadi yang sehat secara utuh: sehat fisik, sehat emosi, dan juga sehat pikiran.
Penutup,
Sederhananya, kesehatan optimal dapat dicapai melalui nutrisi yang seimbang, cukup gerak, dan keharmonisan pikiran. Dengan kita menjaga tubuh sekarang, kelak tubuh yang menjaga kita nanti.
Sumber:
Terima Kasih sebesar-besarnya kepada Dr. Husen Ahmad Bajry, M.D., Ph.D. atas karya besarnya: buku “Tubuh Anda Adalah Dokter yang Terbaik” yang menjadi inspirasi saya menulis artikel ini.
Feb 14th
Pada zaman dahulu kala, siang hari yang terik saat matahari ganas memanggang jalan dr. Mansur… Waktu itu saya sedang naik angkot 67 sambil menyusuri jalan yang terkenal karena banyak dihiasi penjual siomay dan kolak durian di sepanjang sisi jalan. Jalan Kuliner Medan pikirku.
Kebetulan angkot yang saya tumpangi lumayan penuh sehingga saya harus duduk agak berhimpitan dengan penumpang lain. Dan bukan sebuah kebetulan jika saya duduk di pojok belakang sebelah kiri dekat jendela, karena disanalah posisi duduk favorit saya sejak lama.
Angkot berjalan dengan santai saja. Sambil menikmati hembusan angin yang menembus jendela, saya menebar pandangan keluar memandangi orang-orang yang berdiri di samping jalan. Namun, seketika mata saya terpalingkan melihat kejadian aneh karena ada seseorang pria putih berkaos Muse hitam yang terus berlari di samping angkot saya menuju arah simpang kampus. Dan yang lebih kaget lagi, orang yang terus berlari di samping angkot itu ternyata adalah teman baik saya, Yori Vt.
Ada apa gerangan si Yori itu? Mengapa berlari di samping angkot bukannya naik? tanyaku dalam hati.
Sambil melaju bersama angkot kuning itu, saya memanggil dia setengah berteriak. Yori pun menyadari keberadaanku sambil menyunggingkan senyum sumringah andalannya. Fantastik. Kemudian sambil kami melaju, terjadilah percakapan yang sangat fenomenal itu:
Saya : “woi Jo!”
Yori : “Hooy.. mas Boy!”
Saya : “Sedang apa lari-lari di samping angkot? hayo naik.”
Yori : “Tidak Boy Shandy.. aku lagi menghemat Rp 1000,- nih” Dia menjawab dengan agak kepayahan.
sejenak saya terus memperhatikan langkah larinya yang teratur itu. Kemudian,
Saya : “Kalo gitu, mengapa tidak lari-larinya di samping taxi saja, kan bisa menghemat Rp 20.000,-?”
–the end–
–cerita diadaptasi dari buku Marketing is Bullshit; karangan Ippho Santosa–
Feb 14th
Hari ini tepat 14 Februari, yang biasa dikenal oleh anak-anak muda zaman mutakhir sebagai hari valentine. Hari kasih sayang. Seiring dengan datangnya “hari kasih sayang” tersebut, banyak bermunculan komentar baik yang pro maupun yang kontra terhadapnya.
Kali ini saya tidak akan membahas mengapa harus setuju dan mengapa harus menolak hari valentine. Karena sudah banyak sekali diskusi mengenai topik itu. Baik dikaji dari sisi sejarahnya, sisi sosial, sisi bisnis, maupun sisi syariat agama.
Sebuah Kebanggaan yang Salah Kaprah
Generasi saya, terlahir di sebuah era dimana segala sesuatu yang berbau dengan Barat; negara-negara barat, budaya barat, gaya hidup barat, musik barat, gaya rambut barat, nama barat, gaya busana barat –baik yang berpakaian maupun yang tidak, makanan a la barat, pokoknya segala yang berbau barat selalu berhubungan dan identik dengan kehebatan, kemodernan, kebanggaan. Buktinya, lihat saja sekitar kita.
Seseorang akan dibilang hebat kalau bicaranya sudah keinggris-inggrisan. Akan bangga bila dipanggil dengan sebutan “Andrew, Harry, Bob, atau Jennifer”, tapi bila dipanggil dengan “Asep, Ucok, dan Tole” selalu identik dengan nama orang kampungan. Bila dipanggil dengan nama “Usman, Ahmad, Imam” merasa malu karena takut bilang teroris atau muslim radikal -bahkan mereka juga malu mengakui diri mereka sebagai muslim.
Orang akan dianggap bergengsi bila sekolahnya di Amerika, Australia, atau Prancis. Meskipun tempat sekolah tersebut belum tentu dipercaya bahkan di negaranya sendiri. Bila kita kebetulan menonton televisi, orang pintar selalu diidentikkan dengan orang bule. Perempuan cantik selalu diidentikkan dengan kulit putih dan rambut lurus pirang.
Kalau minum wine, dianggap lebih berkelas bila dibandingkan dengan minum teh atau jamu. Memakan pizza adalah makanan orang modern, sedangkan makan singkong goreng hanya layak bagi orang-orang rendahan. Saat media sibuk menggembar-gemborkan hari valentine, kita sibuk juga menjadi pengekor.
Anak Muda, Bukan Anak Buta
Setelah kemenangan Amerika pada Perang Dunia II, dan kemenangan Kapitalisme yang menguasai permukaan bumi, masyarakat dunia terutama anak mudanya telah dibutakan. Kita melihat negara pemenang perang adalah hebat, begitu agung. Sehingga apa-apa yang datang darinya adalah hebat dan agung pula.
Anak muda zaman mutakhir sudah lupa akan kesejatian dirinya. Melupakan akar budaya mereka sendiri. Mereka sudah terseret kepada arus yang bisa membawa kepada lubang hitam keputus-asaan. Kita memang melihat negara barat memiliki kemajuan dalam hal fisik, bangunan gedung-gedung bertingkat, mobil-mobil mewah, kekayaan yang melimpah. Namun faktanya, kemajuan fisik mereka, tidak dibarengi dengan kemajuan spirit. Wajarlah semakin banyak orang yang merasa kering jiwanya, galau. Meskipun hidup dengan harta yang melimpah.
Ambil yang Baik Saja
Anak muda, jangan membuta. Mengambil dan menelan apa saja yang datang dari barat. Ambillah yang baik-baik saja. Ambil yang sesuai dengan jati diri bangsa kalian. Ambil yang sesuai dengan uswatun hasanah kalian.
Kurang bukti apalagi bagi kita? Lihatlah keagungan bangsa Romawi, kehebatan bangsa Babilonia, arsitektur bangsa Mesir Kuno. Mereka memiliki fisik, bangunan-bangunan yang begitu hebat, kekayaan yang luarbiasa, kemenangan-kemenangan perang yang menggetarkan. Namun apa yang tersisa dari mereka sekarang? Hanyalah bebatuan tanpa penghuni. Begitulah, bila budaya hanya mementingkan kemegahan fisik, tanpa keluhuran budi.
Dahulu kala, saat kekaisaran Romawi yang megah beralih menjadi tirani, saat bangsa Persia yang menyembah api menebar ketakutan dengan pedangnya. Siapakah yang menaklukkan mereka? Siapakah yang berhasil mengembalikan kedamaian ke bumi? Mereka hanyalah orang-orang dengan baju yang kasar, berjanggut, pergi dengan menunggangi unta, berpuasa di siang hari dan kuat beribadah di malamnya, tanpa mengharap kelimpahan dunia. Yang mereka inginkan hanyalah keridhaan Allah. Orang-orang itulah yang memiliki keluhuran budi, yang sanggup membawa terang kepada bumi yang dirundung kegelapan setelah sekian lama. Begitulah Kawan, bangsa yang beradab adalah bukanlah bangsa yang menjadi pengekor kebudayaan bangsa lain yang menghegemoni.
Feb 11th
Beberapa kesempatan yang lalu, saat mengangkat barang-barang teman saya yang sedang pindah rumah, saya menemukan sebuah buku saku orange yang berdebu. Buku saku itu berisi rangkuman semua statistik di Provinsi Sumatera Utara tahun 2007. Sebenarnya penemuan buku tersebut bukanlah penemuan yang luarbiasa, namun yang membuat saya tertarik adalah kalimat kutipan yang ada di halaman belakang buku itu. Kalimat itu berbunyi:
Statistik Tak Ubahnya Bagaikan Pelita Dalam Kegelapan
Saya tersenyum saat membaca kutipan tadi. Kalimat itu tentu ada benarnya, meskipun bisa jadi tidak sepenuhnya benar. Mengapa? Karena kalimat itu benarnya bersyarat.
Tiga Tingkatan Berbohong
Darrell Huff dalam bukunya Berbohong Dengan Statistik (1954) mengungkapkan bahwa berbohong terdiri dari tiga tingkatan. Berbohong tingkat pertama dapat dicontohkan sebagai berikut. Misal ada seorang pria yang menjual hape*), sebut saja hape merk Nokoi**). Pria itu berkata, “ini handphone bagus lho! Lagi pula handphone ini keluaran terbaru dan yang pertama di Indonesia”. Padahal apabila kita cek hape tersebut diproduksi setahun yang lalu, dan dari bekas-bekas goresan di casing-nya nampak jelas bahwa hape tersebut adalah barang bekas. Namun pria penjual Nokoi itu tidak melakukan polesan sedikitpun terhadap hape tersebut. Dia hanya mengatakan bahwa hape itu adalah barang baru. Dia mengatakan kebohongan namun tidak ada upaya untuk menutupi kebohongannya, inilah yang disebut berbohong tingkat pertama atau tingkat dasar.
Kemudian berbohong tingkat kedua. Kita ambil contoh penjual Nokoi tadi. Dia bilang, “handpone ini bagus dan baru” kemudian dia juga memberikan polesan terhadap hape yang dia jual misalnya mengganti casing lama dengan yang baru dan mengilap, mengatur ulang sistem/program sehingga tanggal produksi menjadi lebih muda, mengganti box dan semua aksesoris hape lainnya menjadi tampak baru. Bahkan membuat segel palsu yang tampak mirip dengan yang original. Berbohong tingkat ini lebih “mematikan” bila dibandingkan dengan tingkat pertama. Mengapa demikian? Karena selain berbohong, dia juga berupaya menutupi kebohongan yang dia buat. Sehingga lebih banyak orang yang menjadi korban.
Dan selanjutnya adalah berbohong tingkat ketiga. Berbohong tingkat inilah yang paling “sadis” dan yang paling “mematikan”, yaitu berbohong dengan statistik. Misalnya hape bekas tadi bisa dianggap baru hanya dengan mengadakan survey kepada 1.000 orang dengan hasil penelitian bahwa hape bekas tadi adalah termasuk hape baru. Caranya dengan mengajukan pertanyaan seperti ini (karena jawaban survey adalah tergantung pertanyaan), “bila dibandingkan dengan handphone yang diproduksi tahun 2000, apakah handphone Nokoi ini termasuk baru?” Bisa dipastikan 1.000 responden waras yang mendapat pertanyaan itu akan menjawab bahwa hape bekas tersebut termasuk baru.
Contoh lainnya, misal iklan kosmetik merk Ketipu mengatakan “4 dari 5 perempuan Indonesia merasa lebih cantik setelah memakai produk Ketipu”. Kalau hasil statistik tersebut ditelan mentah-mentah, tentu perempuan Indonesia bakal berbondong-bondong memborong produk kosmetik itu. Padahal mereka tidak tahu bagaimana survey itu dilakukan, bagaimana cara sampling-nya, tempat penelitiannya dimana, siapa respondennya, dan kapan penelitian dilakukan. Bisa saja survey produk tersebut dilakukan di asrama-asrama siswa putri yang punya ketentuan keluar-masuk asrama yang ketat, atau survey tersebut dilakukan kepada ibu-ibu di perkampungan masyarakat yang miskin (sehingga jarang membeli kosmetik dan perawatan wajah tentunya). Saat ibu-ibu yang jarang memakai kosmetik itu memakai produk Ketipu, ya sudah pasti akan merasa lebih cantik dibanding saat mereka tidak memakai kosmetik.
Selain teknik sampling yang menjadi perhatian, cara menampilkan gambar atau grafik hasil penelitian juga kadang dapat menipu bagi mereka yang tidak jeli.
Misalkan ada seorang pimpinan pemerintahan Kota X. Pada saat kampanye dia meng-klaim bahwa selama tiga tahun menjabat (sejak tahun 2010 sampai 2012) dia telah berhasil menurunkan angka pengangguran hingga tinggal sepertiganya, seperti yang tampak pada gambar berikut:
Pada gambar di atas, sekilas angka pengangguran di Kota X menurun dalam tiga tahun, namun range angka pengangguran yang dipakai tidak tepat karena dimulai dari angka 3.000 sampai 3.045, oleh karena itulah tampaknya ada penurunan. Padahal bila menggunakan skala yang benar, gambar yang didapat adalah sebagai berikut:
Dari gambar kedua terlihat bahwa angka pengangguran di Kota X selama tiga tahun sebenarnya relatif stabil dan tidak ada penurunan yang berarti.
Mari Melihat Lebih Dalam
Hari ini kebanyakan stasiun televisi memenuhi siarannya dengan hasil jajak pendapat, polling sms, quick count, dan lain-lain. Belum lagi iklan-iklannya yang sering dihiasi dengan hasil penelitian laboratorium, survey terpercaya dan semua hal dijelaskan dengan angka-angka statistik, grafik dan analisis-analisis dari (katanya) para pakar -entah mengapa biasanya digambarkan dengan orang bule yang memakai jas putih- yang pada akhirnya dapat menggiring pemirsa awam pada satu pilihan tertentu.
Saya yakin bahwa statistik terlahir untuk dapat menjadi “pelita dalam kegelapan” seperti kalimat kutipan di buku yang saya temukan dahulu. Karena sudah banyak juga manfaat yang kita rasakan dari penggunaan statistik dalam kehidupan. Namun, statistik hanya akan menjadi pelita bila digunakan dengan sumber data yang benar, diolah, dan dijelaskan hasilnya dengan cara yang benar pula.
Melalui tulisan ini saya mengajak para pembaca agar lebih jeli dan mampu melihat lebih dalam pada setiap informasi statistik yang muncul di media. Dan jangan mudah terpesona dengan angka-angka, persentase, dan grafik yang bisa saja menipu, apalagi bila informasi tersebut memiliki motif-motif politik, maupun komersil.
Salam,
Boy Shandy
NB:
*) handphone
**) Nokoi (bahasa slang Medan) artinya membodohi, menipu.